" />
browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Produk Biogas Mandiri: Solusi Sampah Perkotaan

Posted by on 25 September 2012

National Urban Development Strategy (NUDS) pada tahun 2003 meneliti bahwa rata-rata buangan sampah kota adalah sebanyak 0,5 kg/jiwa/hari. Nilai tersebut menjadikan potensi sampah perkotaan Indonesia pada tahun 2003 sebanyak 100.000 ton/hari. Jakarta sebagai kota dengan penduduk terbesar, yaitu sekitar 9.783.308 jiwa penduduk tahun 2003, menempati posisi pertama penghasil sampah perkotaan terbanyak yaitu sebanyak 4.892 ton/hari.

Sebanyak 75% dari sampah pemukiman merupakan sampah organik (Sudrajat, 2005). Sampah organik adalah sampah yang dapat terurai (degradable). Contoh dari sampah organik ini yaitu berupa sisa sayur, rempah-rempah, sisa buah dan lain-lain. Namun, setiap jenis sampah memiliki tingkat kemudahan penguraian (degradibilitas) yang berbeda-beda. Jenis yang mudah untuk diuraikan yaitu selulosa dari kertas koran, hemiselulosa dan karbohidrat.

Potensi sampah perkotaan yang kian bertambahnya seiring meningkatnya aktivitas pemukiman seringkali tak diseimbangi oleh pengolahan yang baik. Perumahan yang kian menjamur di Jakarta mempertegas peningkatan kuantitas sampah tersebut. Pengelolaan sampah perumahan saat ini hanya mengandalkan petugas kebersihan di kalangan RT/RW atau truk Dinas Kebersihan Pemerintah Daerah. Hal tersebut hanya akan menambah penumpukkan sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Sampai akhir tahun 2011 lalu, telah dihasilkan sampah sebanyak 5.000 – 6.000 ton/hari dari Jakarta (REPUBLIKA, 2011). Jika tak segera ditangani dengan baik, maka akan membutuhkan lahan lebih luas untuk penampungan sampah yang kian meningkat.

Banyak alternatif solusi dari masalah penumpukkan sampah. Mayoritas masyarakat hanya menumpuk sampah di tempat sampah depan rumah atau mengumpulkannya di area terbuka yang secara ilegal disetujui masyarakat setempat untuk menjadi tempat pembuangan sampah pemukiman. Sampah-sampah tersebut jika terlalu menumpuk akan dibakar begitu saja.

Perlu diketahui bahwa pembakaran sampah meskipun berskala kecil akan sangat berperan dalam menambah jumlah zat pencemar di udara, terutama debu dan hidrokarbon. Beberapa hasil penelitian terbaru telah membuktikan bahwa pembakaran sampah rumah tangga pada kondisi suhu rendah akan menimbulkan gas racun dioksin. Dioksin merupakan bahan kimia yang dapat bertahan dalam waktu cukup lama, terakumulasi dalam tanah sampai 10-12 tahun. Dioksin ditemukan di seluruh dunia dan terakumulasi pula dalam rantai makanan, terutama dalam jaringan lemak hewan. Lebih dari 90% pengakumulasian dioksin pada manusia berasal dari produk hewani, terutama susu, ikan dan kerang. Dampak negatif dari dioksin yaitu menyebabkan masalah reproduksi dan perkembangan, merusak sistem kekebalan tubuh, mengganggu hormon dan bahkan dapat menyebabkan kanker. (WHO, 2010)

Masyarakat lebih memilih untuk melakukan pembakaran terhadap sampah rumah tangga karena tak memiliki solusi mudah lainnya untuk menangani timbunan sampah. Pengelolaan sampah menjadi produk biogas mandiri merupakan suatu solusi alternatif yang patut diterapkan di pemukiman Jakarta. Selain dapat memenuhi kebutuhan energi daerah setempat, hal ini menjadi suatu win win solution atas permasalahan peningkatan kuantitas sampah akibat perkembangan aktivitas pemukiman.

Larasati Aliffia S. Widyaputri

Mahasiwa Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

Institut Pertanian Bogor

 

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *