" />
browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Sebuah Catatan Perjalanan: Melaka

Posted by on 3 April 2013

Konferensi “Youth Be Aware” di Melaka

oleh Ikrom Mustofa
GFM 48

 

“Cerahnya pagi mungkin belum tentu meniscayakan hadirnya mentari. Mendung yang bergelayut jua belum tentu memaksa hadirnya hujan. Bahkan terik yang menyengat juga belum tentu menyurutkan kubangan air gutasi. Semuanya telah diatur oleh yang maha pengatur, karenanya kita tak dapat bertindak dalam kemahapastian. Hidup? Ya, serahkan saja padanya. Kita tinggal menjalani dengan segelintir ikhtiar dan secerca tawwakal”

Senin subuh itu cukup cerah. Bertepatan dengan sehari setelah kegiatan Up Grading CSSMoRA IPB, aku memantapkan langkah menuju Bandara Soekarno Hatta Cengkareng untuk terbang ke Malaysia. Hmm, sebelumnya aku belum pernah menginjakkan kaki di bumi petronas itu. Alhasil, perasaan was-was muncul dan terus mengelabuhi isi kepala. Tujuan kepergian kali ini ke Malaysia atau tepatnya ke Melaka adalah untuk memenuhi undangan konferensi Internasional “Youth Be Aware” yang ditaja oleh World Youth Foundation dan UNESCO. Sesuai rencana dan jadwal yang telah ditentukan oleh panitia, aku akan menghabiskan waktu di Melaka selama empat hari, terhitung mulai hari Senin hingga Kamis.

Bangun pukul 4.30 pagi membuatku harus tergesa-gesa mempersiapkan segalanya. Jadwal terbang ke Malaysia pukul 9.05 pagi membuatku harus mengejar waktu hingga sampai bandara. Segera setelah shalat subuh aku berangkat ke terminal Damri dengan diantar oleh teman sekontrakan. Sesampainya di sana aku langsung memesan tiket dan mengambil tempat duduk. Namun sayang sekali, keadaan jalan tol menuju bandara memang tidak bersahabat kala itu. Aku sampai di bandara pukul 9.10, artinya aku ketinggalan pesawat. Sejenak menghela nafas panjang karena saking bingungnya dengan keadaaan saat itu. Kemudian, tanpa fikir panjang lagi aku segera reschedule jadwal ke petugas dan akhirnya dapatlah ganti tiket pukul 11.40. segera setelah itu aku menghubungi pihak panitia untuk tetap menungguku di bandara KLIA hingga aku sampai di sana, namun sayang sekali tidak ada yang mengangkat.

Pasrah? Memang, saat itu benar-benar pasrah. Bahkan ketika pesawat mulai take off, aku tak tahu lagi harus menghubungi siapa kalau nanti sampai di KLIA. Benar sekali, sesampainya di KLIA, pihak panitia sudah tidak ada di lokasi. Kemungkinan mereka telah kembali ke Melaka. Perlu diketahui bahwa jarak KLIA ke Melaka itu sekitar 130 KM. “jauh sekali..” fikirku. Sejenak aku duduk dan mengingat-ingat kembali catatan perjalanan para backpacker ke Melaka. Ya, aku hanya bisa mengingat-ingat, karena untuk browsing di sana sia-sia saja menurutku, dengan HP yang tak bersinyal, dan pulsa yang super mahal. Akhirnya berdasarkan penuturan beberapa backpacker di Blog mereka, dan tanya-tanya orang sekitar termasuk ke petugas bandara, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju LCCT, sebuah bandara yang jauh lebih tua dari KLIA.

Sungguh, rencana Allah untuk kita memang jauh di luar dugaan dan prasangka. Di perjalanan menuju LCCT, aku dipertemukan dengan 2 orang suami istri yang ternyata mereka adalah orang Jogja, Indonesia. Setelah berbincang-bincang hangat, ternyata mereka juga hendak menuju Melaka untuk berobat, dan mereka mengajakku untuk berangkat bareng ke Melaka. Di LCCT, aku dan bapak tadi segera memesan tiket BUS. Yang ku tahu, tiket bus ke Melaka itu berkisar antara 9-12 RM. Benar, harga tiket bus ke Melaka yang hendak kami pesan seharga 9 RM, namun keberangkatannya masih nanti pukul 18.00, sedangkan sekarang masih terlalu siang. Akhirnya, bapak tadi memutuskan untuk beralih ke taksi. Taksi? Pikirku. Itu akan sangat menguras biaya, dan dengan berat hati aku memutuskan untuk menunggu bus malam saja. Lagi-lagi dengan entengnya bapak itu mengatakan bahwa ia akan membayari biaya taksi untukku. Terima kasih bapak.

Dengan biaya taksi sekitar 159 RM atau setara dengan 500 Ribu rupiah, kami melanjutkan perjalanan menuju the heritage city, Melaka. Perjalanan ke Melaka yang cukup jauh jaraknya, hanya ditempuh dalam waktu 1,5 Jam. Perlu diakui disana memang tidak semacet Jakarta, disiplin di perjalanan pun sangat tinggi, hingga perjalanan pun terasa sangat nyaman.

Sesampainya di Melaka, tepatnya di dekat rumah sakit di mana bapak itu akan berobat, aku segera melanjutkan perjalanan kembali menuju Renaissance Melaka Hotel setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih banyak kepada sepasang suami istri tersebut sebelum berpisah. Tidak cukup jauh dari rumah sakit itu, Renaissance Melaka Hotel telah berada dalam bayangan. Hmm, kira-kira semewah apa ya? Pastinya mewah, fikirku.

Dengan tambahan biaya 10 RM hasil tawar menawar dengan pak sopir taksi, akhirnya aku sampai juga di Renaissance Melaka Hotel. Di sana, aku disambut hangat oleh panitia, dipersilahkan untuk mengisi form kedatangan, hingga diantarkan ke kamarku yang berada di lantai 19. Very amazing, ketika kubuka jendela kamar hotel berbintang lima itu, ku lihat dengan sempurna sosok Melaka yang super rapi, nyata, dan nyaman. River cruisenya bisa kulihat dari kamar dengan nyata, setelah sebelumnya hanya kulihat melalui internet. Alhamdulillah. Pantas saja budget untuk bermalam di Hotel ini cukup mahal, hmm, sekitar satu juta Rupiah untuk kamar standar dalam satu malam saja. Lagi-lagi syukur itu selalu ku ucapkan, karena masih bisa bermalam di sini untuk beberapa malam tanpa biaya sedikitpun. Sebenarnya aku sekamar dengan orang Srilanka, namun ia tiba-tiba saja pindah kamar sesaat sebelum aku datang. Tak apalah, lebih luas sendiri.. hehe.

Capek? Pasti, karena seharian harus menahan kantuk untuk terus terjaga dengan perjalanan yang super jauh. Matapun tak dapat berkompromi lagi, setelah menjamak qasar shalat magrib dan isya, segera ku rebahkan badan di ranjang mewah malam ini sambil ku hidupkan TV untuk sekedar melihat-lihat siaran TV Malaysia. Hingga belum sempat menuntaskan siaran TV, aku sudah terbang jauh dalam mimpi karena saking capeknya.

Hari kedua pun tiba, aku bangun pagi-pagi. Hmm, kira-kira pukul 5 subuh aku bangun, segera ku buka jendela karena tak sabar lagi melihat pemandangan Melaka saat pagi hari. Namun sayang, sampai jam 6 pagi pun Melaka masih terlalu gelap, tidak seperti di Bogor yang terlalu prematur siangnya. Hari kedua membuatku banyak beraktivitas, mulai dari membaca rundown kegiatan hari ini yang super sibuk dari pagi hingga sore nanti, mencari-cari di mana 7 orang delegasi Indonesia yang lain, hingga memberanikan diri meminta jatah internet gratis di kamar kepada resepsionis hotel. Alhasil, pagi ini, aku telah menemukan teman-teman Indonesia, hmm akhirnyaa, kemudian aku juga berhasil membujuk resepsionis untuk memberikan jatah internet gratis di kamar, hmm, bisa FBan sama teman-teman Indonesia setelah dua hari ini putus komunikasi, hingga aku mulai berhasil makan dengan lahap makanan khas barat karena saking laparnya.

Hari kedua dipenuhi dengan sesi presentasi, sesi konferensi, hingga workshop yang semuanya dilakukan dengan bahasa Inggris. Bahasa Inggrisku yang kacau dengan pronounciation yang gak karuan membuatku agak terbata-bata mengimbangi bahasa delegasi Inggris, Australia, atau negara-negara barat itu. Namun semua itu ku imbangi dengan tetap mengikuti gaya bahasa mereka, alhamdulillah masih bisa mengerti apa yang mereka ucapkan. Ngantuk? Pasti, dikelas saja aku sudah menjadi langganan ngantuk, apalagi di forum yang menurutku lebih serius seperti ini. hehe. Di penghujung hari kedua, ada kompetisi memasak, hmm, semacam master chef itu. Beruntung aku sekelompok dengan mereka yang pintar memasak masakan asing, hingga aku hanya kebagian tugas mencuci piring. Hehe..

Malamnya, aku bersama anggota delegasi Indonesia mengajak beberapa anak Malaysia dan anak luar lainnya untuk mengelilingi Melaka. Tujuan awalnya adalah untuk membeli pernak-pernik Melaka sebagai oleh-oleh, namun sejenak terlupa karena kami lebih tertarik dengan sesi foto-foto di depan bangunan-bangunan tua khas Melaka. Awalnya kami mengunjungi gereja tua Melaka, kemudian jam Melaka, kapal raksasa, hingga berlanjut ke menara Taming Sari dan kamipun sempat menaikinya hingga terlihat seluruh sudut kota Melaka dari ketinggian puluhan meter. Pulangnya, kami menyempatkan diri untuk menyusuri tepian River Cruise, merasakan indahnya bantaran sungai yang super bersih itu.

Pagi harinya, tepatnya di hari ketiga, kembali dengan sesi konferensi, namun kali ini bernama “Youth Action Plan”. Cukup lelah juga setengah hari ini dipenuhi dengan kegiatan diskusi hangat tentang keadaan masing-masing negara. Aku cukup puas ketika menjelaskan bagaimana Indonesia dengan UKM-nya yang sukses, pemberantasan KKN yang terus dicanangkan, hingga pendapatan per kapita yang terus diperbaiki. Aku juga tak lupa untuk menjelaskan tentang fenomena pemanasan global di Indonesia yang cukup marak terjadi, hingga berbagai upaya untuk mengatasi hal tersebut.

Sore hari, masih di hari yang sama, kami ber-70 perwakilan masing-masing negara di Dunia, melakukan kegiatan Tour mengelilingi Melaka dengan menggunakan bus sekaligus ditemani guidenya. Sambil berjalan mengelilingi bangunan-bangunan khas Melaka, sang guide menjelaskan panjang lebar tentang Melaka mulai dari sejarahnya hingga keadaan sekarang. Di beberapa spot kami turun sejenak untuk sekedar mengambil gambar hingga membeli oleh-oleh. Perjalanan diakhiri dengan rekreasi duck tour yang sangat mengagumkan. Bus atau yang disebut duck yang kaya amphibi itu ketika di darat dapat berjalan layaknya bus kebanyakan, namun ketika masuk air, maka akan berubah menjadi kapal. It’s so amazing, soalnya baru pertama kali naiknya, hehe. Alhasil, akupun  aktif mengambil gambar dari berbagai sudut lokasi, hingga aku dapat menikmati sunset di Selat Melaka di atas duck ini.

Hari ketiga usai, maka hampir berakhir pula keberadaanku di Melaka, tepatnya di Renaissance Melaka Hotel ini. Di hari keempatnya, aku sengaja pulang lebih awal dari teman-teman yang lain karena aku tidak mau lagi ketinggalan pesawat. Sedihnya berpisah dengan teman-teman delegasi Indonesia, teman-teman antar negara, hingga dengan panitia yang comfortable banget. Jam 11, dengan taksi panitia, aku telah diantar menuju KLIA, hingga akhirnya sampai di Indonesia kembali dengan selamat. Alhamdulillah..

Hmm, sedikit oleh-oleh dari Melaka, check it Out yaa..

Akhirnya, ku ucapkan terima kasih kepada semua pihak. IPB dan Panitia serta UNESCO yang mennanggung seluruh biaya konferensi hingga segala bentuk akomodasi. Ayah ibu yang sempat cemas waktu itu, saudara yang begitu care, dan Teman-teman yang selalu mendukung perjalananku ke sana.

Alhamdulillah ya Allah..

Share

One Response to Sebuah Catatan Perjalanan: Melaka

  1. tatanggunawan32

    semangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *