" />
browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Road to Bacolod City, Phillipines Part 2

Road to Bacolod City Philippines :

WINNER  OF Platinum Prize on

The 3rd International Conference Multidisciplinary Research

 

Cerita oleh :

Ahadyah Ayu Umaiya (Bio 48/FMIPA IPB)

 

Tim Paper Delegasi Indonesia:

Asep Andi (TMB 47)

Iga Nugraheni (PTN 48)

Ahadyah Ayu Umaiya (BIO 48)

Hari Kedua Conference 8 Februari 2013

Seperti hari pertama konferensi kemarin, kami berangkat menuju Plantra Centro Hotel pada pukul 07.00. Hari kedua ini adalah hari spesial kami. Mengapa? Karena kami akan mempresentasikan paper kami yang tentu dilombakan. Setelan baju formal kemeja warna putih dengan jas warna hitam menambah rasa percaya diri kami. Pukul 07.10 kami segera menuju Grand Ballroom untuk mengikuti acara konferensi selanjutnya.

Sebelum mendengarkan sambutan-sambutan dan Country Paper, dikumandangkan lagu kebangsaan Filipina dan pembacaan do’a. Setelah berdo’a, sesi selanjutnya adalah Welcome Address yang disampaikan oleh Dr. Ma. Marcedes A. Joson serta di pagi yang sejuk, Dr. Raul C. Alvarez, Jr. ,  Direktur Komisi Pendidikan Tinggi Region XI- wilayah bagian Davao ,
berceramah di depan peserta konferensi. Beliau memaparkan tentang profil perkembangan dan kondisi pendidikan tinggi di Filipina. Masih banyak sarana dan prasarana yang menunjang perkuliahan harus ditingkatkan pasca gempa dan tsunami, terlebih lagi perguruan tinggi yang berada di wilayah pedalaman Filipina. Mendengar penuturan tersebut, kami merasa bersyukur bahwa kondisi perguruan tinggi di Indonesia relatif baik. Kemudian, dipaparkan juga bahwa penelitian Indonesia jauh lebih tinggi dari Filipina. Dari kondisi inilah, muncul di hati dan pikiran kami bahwa Indonesia itu dapat berjaya di kancah internasional dengan sumbangsih penelitian-penelitian yang dilakukan oleh pemerintah, para akademisi dan peneliti, perusahaan, dan masyarakat. Demikian hikmah yang dapat kami ambil.

Tak terasa, acara pun beralih ke sesi Country Paper. Kali ini paper yang akan dipresentasikan di podium berjudul Women’s Role in Improving the Quality of Traditional Arts Mask Products trough Finishing Technique which Impact on the Economic Value Improvement oleh Dr. Slamet Subiyantoro dari Universitas Sebelas Maret, Indonesia. Selain itu, dipresentasikan pula paper yang berjudul Culturally Relevant Science Education in the 21st Century Flat World : Insight from a Research Experience in Thailand, Japan, and Phillipines oleh Dr. Vicente C.Handa dari West Visayas State University, Filipina.

Sesi country paper pun usai, pukul 10.20 tiba saatnya tim kami akan mempresentasikan paper kami di depan peserta lainnya. Kami mendapatkan ruang presentasi di Ballroom C. Kami presentasi dengan nomor urut  dua. Selama 30 menit pun kami presentasi dan melakukan tanya jawab dengan juri dan audiens. Ternyata para peserta antusias dengan topik paper kami tentang bio-diesel dari limbah biji mahkota dewa. Mereka mengagumi kami yang masih mahasiswa S1 sudah dapat menghasilkan karya penelitian yang hebat. Setelah semua peserta presentasi, segera diumumkan juara yang mendapatkan Bronze Prize (juara harapan 1), Silver Prize (juara 3), Platinum Prize (juara 2) dan Diamond Prize (Juara 1). Alhamdulillah setelah melalui diskusi para juri, kami pun keluar sebagai juara kedua. Platinum Prize akhirnya kami dapatkan. Kami senang karena para juara lainnya adalah orang-orang yang bergelar lebih tinggi dari kami, mulai dari Master sampai dengan Ph.D. Tidak sia-sia kami berusaha dan berjuang keras untuk dapat hadir di konferensi yang bergengsi ini. Segera setelah presentasi dan mengisi perut kami yang sudah lapar, kami pun kembali ke hotel karena acara konferensi di hari kedua telah selesai.

 

Hari Ketiga Conference 9 Februari 2013

Sembilan Februari adalah hari terakhir kegiatan konferens kami. Tidak terasa hari di Bacolod terlewatkan begitu cepat. Seperti hari-hari sebelumnya, kami menghadiri acara konferens masih dengan semangat yang membara. Di hari ketiga ini, sesi presentasi terakhir dimulai lebih lambat yakni pukul 8.40 sampai dengan 12.00. Kemudian dilanjutkan acara makan siang, plenary session dan country paper dari Universite de Quebec a Montreal, Canada, yang dibawakan oleh Michel Plaisent. Judul paper Michel Plaisent ialah Pedagogical Use the Social Media: The Student’s Point of View.

Pukul 13.30 Dr.Genero V. Japos, Presiden IAMURE dan PAIR menyampaikan ceramah tentang masa depan penelitian di Filipina dan meningkatkan mutu peneliti melalui konferensi yang akan datang. Selain itu, disampaikan pula, seorang ilmuwan itu tidak perlu kaku karena anggapan masyarakat luas terhadap watak ilmuwan maupun peneliti adalah kaku, serius, ambisius. Seharusnya para peneliti tidak harus identik dengan sifat-sifat tersebut. Para peneliti dapat menikmati musik dan teh dengan santai, menghadiri pesta sekali-sekali tentu boleh. Karya-karya yang sudah diteliti harus diterbitkan ke jurnal-jurnal ilmiah dan diterapkan di masyarakat. Jangan sampai malah karya-karya penelitian menjadi masalah baru bagi masyarakat luas. Gaya penyampaian beliau yang menarik dan diselingi humor membuat kami dan peserta konferensi lainnya merasa enjoy ketika mendengarkan ceramah satu jam tersebut.

Sesi terakhir setelah ceramah dari Dr.Genero V. Japos adalah sesi yang ditunggu-tunggu oleh para peserta konferens. City Tour ke kota Bacolod. Pukul 15.00 kami sudah siap mengelilingi kota Bacolod dengan menggunakan Bus sekolah La Consolation College Bacolod. Perjalanan pertama kami singgah di Museum Dizon Ramos, museum yang berisi semua peninggalan keturunan pertama di Negros Occidental, termasuk rumah, barang-barang unik, dan Mass Kara. Perjalanan selanjutnya ke The Ruins. The Ruins adalah mansion atau rumah peristirahatan yang dibangun pada awal tahun 1900-an oleh Don Mario Ladema Lacson untuk mengenang kematian istrinya pertama, Maria Braga Lacson, yang kecelakaan ketika sedang hamil buah cinta mereka yang ke-11. Namun, Mansion bertemu nasib menyedihkan dalam bagian awal dari Perang Dunia II ketika USAFFE (Amerika Serikat Angkatan Bersenjata di Timur Jauh), maka gerilya pejuang di Filipina, membakar rumah untuk mencegah pasukan Jepang dari menggunakannya sebagai markas mereka.

Sekarang, bangunan the Ruins berdiri kokoh dan masih menjadi bangunan sejarah yang indah. Sehingga, banyak wisatawan domestik maupun luar negeri yang berkunjung untuk menikmati keindahan bangunan yang berdiri megah sebagai saksi sejarah sekaligus simbol cinta Ladema Lacson kepada istri dan anak-anaknya. Perjalanan tour kami akhirnya selesai sampai di sini karena jam telah menunjukkan pukul 18.00. Kami kembali ke Planta Centro Hotel dan pulang ke Hotel. Meskipun tour singkat, kami merasa senang karena sudah mengenal dan belajar tentang sejarah kota Bacolod. Kami pun berpamitan kepada panitia telah memberikan pelayanan yang terbaik selama di The City of Smiles, Bacolod Filipina. Kami akan membawa kabar baik dan menarik selama konferens international di kota tersebut ketika kami akan tiba di Indonesia tanggal 12 Februari 2013.

 

Hari 2

Hari 3

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *