" />
browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

KKIF

KUMPULAN KARYA ILMIAH FORCES

 

ECO SPLASH-TANK, PENYIRAM PUPUK CAIR DENGAN SUMBER SOLAR CELL SEBAGAI SOLUSI PEMUPUKAN TANAMAN MELON

Andi Ismanto, Hendi Okta Kurniawan, Muhamad Fendi Wiranata, Bayu Wijaksana

RINGKASAN

Melon merupakan tanaman yang tumbuh menjalar, mirip dengan tanaman mentimun, tanaman ini dapat dirambatkan pada turus bambu (ajir). Dalam budidaya melon terdapat proses pemupukan susulan. Pupuk susulan tersebut diberikan dalam bentuk larutan, dengan cara dikocorkan disekitar pangkal batang tanaman yang berumur 7, 14,21, dan 28 hari. Setiap tanaman diberikan 200-250 ml larutan pupuk dengan cara disiramkan disekitar pangkal batang tanaman. Alat yang digunakan dalam proses pemupukan (pengocoran) masih dengan teknik sederhana yang tergolong lambat, relatif lama, dan membutuhkan tenaga besar. Permasalahan ini juga dialami oleh GAPOKTAN “Karya Tani” Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Banyak dan luasnya lahan budidaya bagi petani melon mengakibatkan semakin tingginya tuntutan adanya perkembangan dan inovasi alat pengocor yang mudah, nyaman dan tepat guna. Hal ini bertujuan untuk efisiensi tenaga dan waktu bagi penggunanya. Oleh karena itu diperlukan teknologi tepat guna yang dapat menyelesaikan permasalahan di atas, yaitueco splash-tank, penyiram pupuk cair dengan sumber solar cell sebagai solusi pemupukan tanaman melon. Diharapkan dengan adanya teknologi ini, dapat membantu petani melon dalam proses pemupukan (pengocoran) serta meningkatkan kenyamanan bagi petani. Selain berfungsi untuk aplikator, Eco Splash Tank juga dapat melakukan fungsi semprot (sprayer) dengan tekanan yang tinggi sehingga mampu merontokkan karat daun yang sering menyerang tanaman melon.

Tujuan dari program ini yaitu membantu petani melon dalam hal pemupukan secara tepat dan nyaman, meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga dalam proses pemupukan pohon melon, membuat teknologi yang tepat guna, membuat alat pupuk cair untuk mempermudah kerja dan mengurangi kelelahan pada petani melon, serta mempraktekan langsung mata kuliah perbengkelan dalam proses pembuatan alat.

Metode yang digunakan dalam program ini adalah pendekatan rancangan secara umum yaitu berdasarkan pendekatan rancangan fungsional dan pendekatan prototipe yang meliputi perumusan ide, rancangan fungsional, rancangan struktural, gambar teknik dan metode pengujian. Alat ini diharapkan dapat membantu petani melon di Indonesia khususnya dikecamatan Talun Blitar, serta dapat terus dikembangkan yang lebih baik lagi secara luas dan masal.

Kata kunci : Melon, Pupuk cair, Sprayer,Eco Splash Tank

Karya lengkapnya dapat diunduh pada Eco Splash Tank

 

========================================================================================

“SELAMATKAN LUWAK!” : EDUKASI ANIMAL WELFARE BAGI PELAKU BISNIS KOPI LUWAK

Sandi Sopiyandi, M. Elmanaviean, Muhamad Supika, Andri Afrianto, Muhammad Dzulfikri

 

Abstrak. Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan satwa yang digunakan untuk produksi kopi luwak. Nilai ekonomi kopi luwak yang tinggi, menyebabkan bisnis dibidang produksi kopi luwak mulai banyak diminati. Namun, tata cara produksi kopi luwak menggunakan luwak yang ditangkarkan dalam bisnis ini belum mempunyai Standard Operational Procedure yang memperhatikan aspek animal welfare. Selain itu, pemahaman pelaku bisnis kopi luwak mengenai konsep animal welfare masih rendah. Sebagai upaya peningkatan pemahaman tersebut, diperlukan edukasi mengenai konsep animal welfare dan adanya SOP penangkaran luwak. Edukasi animal welfare ini dilaksanakan di CV. Three Mountain Coffee Pengalengan Bandung dengan masyarakat sasaran yakni peternak plasma yang berjumlah 15 orang. Edukasi animal welfare dilakukan melalui program What about luwak, Sayangi Luwak, Ingat K3, Manage Your Action, dan Praktik Lapang. Perubahan peternak plasma secara kognitif `setelah pelaksanaan program yakni terjadinya peningkatan pemahaman yang dilihat dari hasil pre test dan post test, secara afektif yakni adanya keterampilan peternak plasma dalam membersihkan kandang, pengaturan pola pakan, dan penggunaan alat kesehatan dan keselamatan kerja, sedangkan secara psikomotorik yakni adanya jadwal pemberian pakan, pembersihan kandang, dan penggunan alat K3. Sebagai upaya penetapan SOP tata cara produksi dan pengawasan tata cara produksi kopi luwak di Indonesia, Tim PKMM Selamatkan Luwak bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian RI. Perluasan program juga dilakukan melalui kuliah umum tentang pentingnya penerapan animal welfare dalam penangkaran luwak yang dilakukan bersama Himpunan Profesi Satwaliar Fakultas Kedokteran Hewan dan Himpunan Mahasiswa Konservasi Fakultas Kehutanan. Keberlanjutan program bagi peternak plasma melalui penerapan konsep animal welfare dalam penangkaran mereka dengan adanya pengaturan pola pakan, sistem perkandangan yang lebih higienis, manajemen kesehatan, dan penggunaan alat K3, bagi pemerintah melalui penyempurnaan SOP penangkaran luwak untuk dilampirkan pada SK Menteri Pertanian, dan bagi mahasiswa melalui penyusunan program magang himpunan profesi mahasiswa di penangkaran luwak.

Kata Kunci: luwak, kopi luwak, penangkaran, animal welfare

Karya lengkapnya dapat diunduh pada Selamatkan Luwak

 ========================================================================================

KAMPUNG DERET DAN SABUK HIJAU SEBAGAI   ALTERNATIF REFORMASI TATA KOTA TERHADAP PELESTARIAN LINGKUNGAN HILIR DAS CILIWUNG DI JAKARTA

Hafizh Abdul Aziz, Syah Deva Ammurabi

RINGKASAN

Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai utama yang melintasi beberapa wilayah mulai dari Gunung Gede-Pangrango, Kabupaten Bogor hingga pesisir utara Jakarta di Laut Jawa. Sejak zaman dahulu, daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung yang subur menjadi magnet bagi masyarakat untuk mendiami wilayah tersebut. Hal ini mengakibatkan wilayah di sekitar DAS Ciliwung memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, terutama di bagian tengah dan hilir sungai. Kepadatan penduduk tersebut berakibat pada rusaknya ekologi pada DAS Ciliwung. Kerusakan tersebut ditunjukkan dengan tercemarnya air sungai oleh limbah rumah tangga, industri, pertanian dan terjadinya banjir. Wilayah Jakarta sebagai hilir dari Sungai Ciliwung mendapatkan dampak yang paling parah akibat kerusakan ekosistem tersebut. Kondisi tersebut beberapa diantaranya disebabkan oleh perilaku masyarakat yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah dan mendirikan bangunan di ruang terbuka hijau di sekitar DAS Ciliwung. Penerapan kampung deret dan sabuk hijau di pinggiran Sungai Ciliwung dapat mengatasi permasalahan tersebut. Konsep dari kampung deret adalah dengan membangun suatu rumah bertingkat yang dapat menampung lebih dari satu keluarga yang kepemilikannya dibagi berdasarkan lantai dengan sistem strata title. Kampung deret berjarak lebih dari 50 meter dari kiri kanan Sungai Ciliwung. Sementara itu, konsep dari sabuk hijau adalah daerah taman bekas relokasi rumah warga yang memiliki panjang 50 meter dari tepi kiri dan kanan sungai. Pekarangan tersebut dimiliki bersama oleh penghuni kampung deret. Pekarangan tersebut tidak hanya sebagai peresap air hujan tetapi juga sebagai dapur umum bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan kesahariannya. Taman ditanami berbagai tanaman yang bernilai ekonomis seperti tanaman obat, sayur dan buah-buahan. Pekarangan juga dilengkapi dengan lubang resapan biopori sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga, pembuatan kompos, dan peresap air. Selain itu, kedua konsep ini dapat mepererat hubungan sosial antar warga dan mendukung terciptanya masyarakat madani.

Kata kunci : Biopori, Hilir DAS Ciliwung, Kampung Deret, dan Pekarangan
Karya lengkapnya dapat diunduh pada Kampung Deret

========================================================================================

 CILIWUNG BOTANICAL GARDEN : RESTORATION OF UPSTREAM CILIWUNG BASED ON AGROTOURISM

Syah Deva Ammurabi, Hafizh Abdul Aziz, Kartikasari

Abstract. Ciliwung River is one of major rivers in Java which flows through Bogor, Depok, and Jakarta. Although, Ciliwung green and blue open space is deteriorated. Resoarch conducted by Fachrul, Hendrawan, dan Sitawati (2007) shows the decrease of water body and undeveloped area proportion. Otherwise, proportion of constructer area increases (BAPLAN 2012 in Wasis et al. 2012). This change of land use cause decline of soil water retention and infiltration, also increase both erotion in upstream and sedimentation in downstream. The condition causes flood and deterioration of water quality. Because of that, we need a solution that can solve the problems. Ciliwung Botanical Garden is area that combines ecological conservation and ecotourism in Upstream Ciliwung riparian. This garden will become a green and blue barrier in Ciliwung Watershed. The conservation based on Agronomical Vegetation that can retain and infiltrate large volume of water. This paper aims to share idea about Ciliwung watershed conservation, especially the riparian. Using Qualitative method and literature study, authors develops this paper to gain more environmental friendly development of Ciliwung Watershed.

Keywords: agronomical vegetation, Ciliwung watershed, ecological garden, ecotourism, upstream Ciliwung


 ========================================================================================

PENINGKATAN NILAI TAMBAH HASIL KAWASAN MANGROVE DESA PASAR BANGGI KABUPATEN REMBANG MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KOPERASI

Syah Deva Ammurabi, Kharisma Indah Listyorini, Saiful Pratama

 

Abstrak. Karya ilmiah ini berisi tentang upaya untuk meningkatkan nilai tambah hasil kawasan mangrove Desa Pasar Banggi melalui pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada koperasi.Kajian ini bertujuan untuk memberikan solusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan pesisir, khususnya masyarakat Desa Pasar Banggi sebagai upaya pelestarian ekosistem mangrove.Kajian ini diperoleh melalui penelitian. Proses penelitian dimulai dari mendefinisikan masalah, observasi, menarik kesimpulan akhir.Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah dengan melakukan penelitian dan studi pustaka.Selain itu, kami juga mencari produk-produk hasil olahan mangrove lewat Internet, juga melalui buku-buku yang berkaitan dengan pokok bahasan dalam karya ilmiah ini.

Berdasarkan hasil penelitian, kami mengetahui bahwa pengetahuan masyarakat Desa Pasar Banggi mengenai potensi mangrove masih rendah.Faktor utama rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai potensi mangrove disebabkan minimnya perhatian pemerintah daerah setempat dalam memberikan pelatihan dan pembinaan kepada warga.Tidak adanya wadah usaha juga merupakan salah satu faktor penyebab kurangnya kepedulian masyarakat terhadap potensi mangrove yang dapat meningkatkan nilai tambah hasil kawasan mangrove.

 

Kata Kunci :Desa Pasar Banggi, koperasi, mangrove, nilai tambah hasil, pemberdayaan masyarakat


 

========================================================================================

IMPLEMENTASI ECOPRENEURSHIP EDUCATION UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SDM INDONESIA MENYONGSONG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

 Uswatun Khasanah

Institut Pertanian Bogor

 

 Abstrak. Tenaga kerja berdaya saing tinggi dibutuhkan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Melaui Ecopreneurship Education yang memadukan pendidikan kewirausahaan dan pendidikan berwawasan ekologi, peserta didik dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi dunia kerja sekaligus memiliki karakter cinta lingkungan. Nilai-nilai kewirausahaan dibutuhkan tidak hanya ketika peserta didik memilih menekuni dunia bisnis, tetapi juga dibutuhkan di bidang manapun. Karakter cinta lingkungan diperlukan agar generasi masa depan mampu mengelola sumberdaya alam secara berkelanjutan.

Kata Kunci: Ecopreneurship Education, pendidikan kewirausahaan, pendidikan berwawasan ekologi

 

========================================================================================

PEMBENTUKAN KOMUNITAS MASYARAKAT HUTAN LINDUNG DI DAS CILIWUNG SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN LAJU ALIHFUNGSI HUTAN MENJADI DAERAH PEMUKIMAN DAN PERTANIAN

Dimas Ramdhani, Uswatun Khasanah

 RINGKASAN

Ciliwung adalah salah satu sungai di Pulau Jawa yang berperan penting dalam penyediaan air bagi kawasan yang dilaluinya. Seiring berkembangnya zaman, pemanfaatan lahan disekitar DAS Ciliwung mulai berubah, terutama kawasan hutan yang semakin berkurang semenjak sepuluh tahun terakhir karena dialihfungsikan untuk pemukiman dan lahan pertanian. Daerah resapan air berkurang, maka terjadilah banjir saat musim penghujan dan kekurangan air saat kemarau. Ini menunjukkan adanya benturan kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan memanfaatkan sumberdaya di sekitar DAS Ciliwung tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan akibat buruk yang ditimbulkan. Tujuan dari penulisan karya ini adalah untuk menemukan solusi alternatif mengurangi laju alihfungsi hutan di hulu Ciliwung dengan mengutamakan partisipasi masyarakat sekitar hutan lindung. Masyarakat merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya pelestarian hulu sungai Ciliwung. Masyarakat merupakan komponen yang berinteraksi langsung dengan hutan-hutan di bagian hulu dan mempunyai peranan penting untuk mewujudkan kawasan yang lestari ataupun justru menambah kerusakannya. Masyarakat mengeksploitasi sumberdaya sekitar hulu Ciliwung untuk memenuhi kebutuhannya tanpa mempertimbangkan baik buruknya akibat kegiatan mereka itu. Kebutuhan masyarakat memang tercukupi, tapi alam menjadi korban dan rusak akibat pemanfaatan yang tidak memedulikan kelestarian lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan dan diskusi dengan beberapa pihak, hal ini dilakukan untuk memperkuat gagasan dan mengetahui pendapat beberapa pihak mengenai ide yang diajukan dalam karya tulis. Teknik pengolahan data yang digunakan yaitu deskripsi kualitatif. Gagasan yang diajukan yaitu pembentukan komunitas masyarakat sekitar hutan lindung Ciliwung yang berfokus pada upaya pelestarian kawasan hutan lindung di sekitar tempat tinggal mereka. Komunitas baru yang dibentuk nantinya diberi pengarahan oleh pemerintah tentang pelestarian hutan dan kegiatan yang diizinkan ataupun dilarang yang bisa mengganggu keseimbangan lingkungan. Selama ini masyarakat merambah hutan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan ataupun menambah penghasilan. Agar masyarakat tetap mau berpartisipasi dalam upaya menekan laju perambahan hutan yang artinya masyarakat tidak boleh sembarangan memanfaatkan hasil hutan, maka juga harus diberikan solusi lain agar masyarakat tidak kehilangan sumber pemasukan finansial. Ternak lebah hutan menjadi cara jitu untuk mengajak masyarakat melakukan pelestarian hutan tanpa harus kehilangan penghasilan yang selama ini didapat dengan merambah hutan secara langsung. Berternak lebah membutuhkan lingkungan yang alami dan tenang agar madu yang dihasilkan banyak. Melalui cara seperti itu, dengan sendirinya masyarakat akan terpacu untuk menjaga kelestarian hutan supaya hasil ternak lebah optimal. Dengan pembentukan komunitas masyarakat sekitar hutan lindung Ciliwung, diharapkan laju alihfungsi hutan oleh masyarakat dapat berkurang. Masyarakat tetap mendapat penghasilan melalui ternak lebah sebagai ganti dari pemanfaatan hutan secara langsung yang selama ini dilakukan tanpa menghiraukan kelestarian DAS Ciliwung.

Kata Kunci: Ciliwung, hutan lindung, masyarakat

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *